Rabu, 19 September 2012

penurunan titik beku

PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN B. Landasan Teori Dalam penentuan Tf dan Tb, suhu harus mengalami perubahan (suhu tidak konstan) oleh karena itu dipakai satuan konsentrasi molal yang tidak bergantung pada suhu. Satuan konsentrasi molar tidak cocok dipakai karena perubuhan suhu akan mempengaruhi keadaan volume. Harga ∆Kf dan ∆Kb merupakan tetapan yang hanya bergantung pada jenis pelarut, setiap pelarut memiliki harga ∆Kf dan ∆Kb msing-masing diperoleh dari hasil suatu eksperimen yaitu dengan cara mengukur Tf dan Tb dari larutan tersebut tetap; molal dalam pelarut yang bersangkutan diatas (Achmad, 2001:43). Hukum Raoult menyatakan bahwa tekanan uap suatu komponen yang menguap dalam larutan sama dengan tekanan uap yang menguap murni yang dikalikan dengan fraksi mol komponen yang menguap dalam larutan , pada suhu yang sama. Larutan yang mengikuti hokum roult disebut larutan ideal. Syarat larutan ideal adalah molekul zat terlarut dan molekul pelarut tersusun sembarang, pada pencampuran tidak terjadi efek kalor dan jumlah volume sebelum pencampuran sama dengan volume campurannya (selisih volumenya nol). Larutan yang tidak memenuhi hukum Roult disebut larutan nol ideal (Anonim, 2001:03). Tiap thermometer (gas volume konstan) dapat dipakai untuk menunjukkan konstannya suatu suhu jika suhu termometernya tetap konstan. Suhu pada saat zat padat dan zat cair yang terjadi dan bahan yang sama berbeda bersama kesetimbangan fase hanya pada saat suatu suhu tertentu. Kesetimbangan berarti bentuk padat atau padat menjadi cair. Begitu pula suatu cairan akan berasa dengan kesetimbangan fase dengan uapnya hnya pada suatu suhu tertentu bila tekanan dibuat konstan (Sears, 1962:354). Pada setiap suhu, suatu larutan memilki tekanan yang lebih rendah dari pada pelarut murninya. Akibatnya pada diagram hubungan antara tekanan dan suhu terlihat jelas jika bahan titik didih larutan selalu tinggi serta titik beku larutan selalu rendah jika dibandingkan dengan titik beku pelrut murninya. Air murni pada tekanan 1 atm memiliki titik beku 0oC. Jika dalam air kita larutkan zat, maka titik beku larutannya akan lebih rendah dan titik didihnya akan lebih tinggi dari 100oC. Besarnya penurunan titik beku (∆Tf) dan kenaikan titk didih (∆Tb) hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat tersebut . Makin banyak partikel zat terlarut maka makin besar pula Tf dan Tb (Anshory.1999:03). C. Alat dan Bahan 1. Alat•Thermometer•Gelas Ukur 25 ml•Neraca Analitik•Stopwatch•Beaker Gelas 500 mL•Tabung Reaksi• Batang Pengaduk•Botol Semprot 2. Bahan• Naftalena•Asam Cuka Glasial• Garam Dapur• Es•Zat X, Aquadest Penentuan Titik Beku Asam Asetat Glasial Volume Asam Cuka = 25 mL Berat jenis Asam Cuka = 1,19 g/mL Berat asam cuka = 29,75 g 2. Penentuan Bm zat X Volum asam cuka = 25 mL Berat asam cuka (w) = 29,75 g/mL Berat Zat X (W1) = 0,1 g F. Pembahasan Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya bergantung pada konsentrasi zat terlarut dan tidak bergantung pada sifat partikel zat terlarut tersebut. Sifat ini meliputi :1. Penurunan tekanan uap 2. Kenaikan titik didih 3. Penurunan titik beku 4. Tekanan osmotic Titik beku suatu larutan lebih rendah dari pelarut murni. Penurunan titik beku berbanding lurus dengan jumlah mol zat terlarut. Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat larutan itu sendiri. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. Pada praktikum kali ini yang berjudul ‘Penurunan Titik Beku Larutan’, kita dapat menentukan penurunan titik beku molal pelarut dan dapat menentukan BM zat non volatile. Dimana praktikum kali ini didasarkan pada sifat larutan yang disebut dengan koligatif larutan. Ketika suatu zat dicampurkan kedalam suatu pelarut, maka otomatis beberapa sifat fisis dari larutan tersebut akan mengalami perubahan baik itu perubahan titik didih, titik beku, tekanan uap maupun tekanan osmotic suatu larutan. Tekanan uap adalah tekanan yang ditimbulkan oleh uap yang dihasilkan oleh zat padat atau zat cair pada suhu tertentu. Bila air sebagai pelarut murni diuapkan pada suhu dan tekanan tertentu maka uap air menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan uap pelarut. Pada suhu yang rendah (dibawah titik didihnya) molekul-molekul pelarut akan menguap karena pada permukaan zat cair hanya terdapat molekul pelarut saja. Apabila terdapat zat terlarut pada permukaan zat cair maka molekul zat pelarut berkurang pada permukaan zat cair sehingga jumlah molekul yang menguap berkurang. Suatu proses penguapan pada umumnya untuk suatu zat cair itu didahuluidengan proses pendidihan. Jika tekanan uap menurun, maka gaya dorong ke atas molekul akan berkurang sehingga proses pendidihan akan berlangsung lebih lama. Sehingga suhu ketika larutan mendidih lebih tinggi daripada titik didih pelarut. Sedangkan pada titik beku larutan, penurunan tekanan uap akan menyebabkan titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni. Pada percobaan kali ini kita lebih fokus pada penurunan titik beku suatu larutan sesuai dengan judul percobaan kali ini. Pada percobaan kali ini kita melakukan beberapa tahap yaitu pertama yang kita dilakukan adalah penentuan titik didih pelarut murni. Dimana yang digunakan sebagai pelarut murni adalah asam asetat glacial (CH¬¬¬3COOH). Dimana tabung gelas E diisi dengan es batu dan garam dapur. Sedangkan gelas D diisi dengan air dan tabung gelas B diisi dengan pelarut murni. Untuk menentukan titik beku molal asam asetat, terlebih dahulu kita harus mengetahui titik bekunya jika dimasukkan zat terlarut. Zat terlarut yang dicampurkan pada zat pelarut yaitu Naftalena (C10H8) sebanyak 0,1 g. Ketika suatu larutan membeku, maka suhu akan cenderung konstan. Seperti yang terjadi pada percobaan mengenai penentuan titik beku asam asetat glacial. Dari data hasil pengamatan suhu yang dihasilkan pada menit yang ditentukan mengalami konstan mulai dari menit ke 2, ke 5, ke 7, ke 10, ke 15, ke 20 hingga ke30 suhu yang dihasilkan yaitu 12°C. Hal tersebut bisa terjadi karena es yang di masukkan terlalu banyak sehingga larutan tersebut cepat membeku. Sebab semakin dingin suatu larutan maka semakin rendah titik beku yang dihasilkan. Begitu pula suhu pada penentuan tetapan titik beku asam asetat glacial yang dihasilkan juga konstan yaitu 11°C. lain halnya dengan data pengamatan mengenai penentuan BM zat X. Semakin lama waktu yang ditetapkan maka semakin rendah titik beku larutan tersebut. Apabila air merupakan zat pelarut murni, kemudian didinginkan pada suhu 0°C dan tekanan 1 atm, ternyata air tersebut membeku. Apabila ditambahkan zat terlarut ke dalam air maka pada suhu 0°C dan tekanan 1 atm, larutan tersebut belum membeku. Agar larutan tersebut dapat membeku maka tekanan uap jenuh larutan harus mencapai 1 atm dan suhu larutan harus diturunkan. Turunnya titik beku larutan dari titik beku pelarutnya disebut penurunan titik beku larutan. G. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan di atas yaitu : 1) Semakin banyak waktu yang diberikan maka semakin rendah titik beku yang dihasilkan. 2) Dari perhitungan yang telah dilakukan kf Naftalena yang diperoleh adalah 38,08 °C Kg/mol dan BM zat X yang diperoleh adalah 32,027 gram/mol. DAFTAR PUSTAKA Sukartono., 1983. Ilmu Kimia . Erlangga. Jakarta. Achmad., 2001. Kimia. Erlangga. Jakarta. Search. 1962. Fisika Untuk Universitas. Universitas Indonesia Pres. Jakarta. Petrucci, Ralph M., 1987. Kimia Dasar Edisi Keempat Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Supiono., 1999. Anshory.,1999.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar